Bukan Cuma Indah: Mengapa 9 Tari Bali Ini Diakui UNESCO sebagai Warisan Dunia?

tarian bali bukan cuma indah 9 di antara nya di akui dunia oleh unesco. kamu udah pernah lihat?

Pendahuluan: sebuah pengakuan yang jelas

Bayangkan sebuah halaman buku besar yang mencatat warisan budaya dunia; pada 2 Desember 2015 halaman itu menuliskan nama sembilan tarian Bali yang mendapat pengakuan dari UNESCO di Windhoek, Namibia. Kenapa angka 9 penting di sini? Angka 9 menunjukkan kumpulan khusus tari tradisional Bali yang dipandang layak tampil dalam daftar representatif Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan, sehingga pengakuan ini menempatkan tari-tari itu setara dengan warisan dunia lain dari Indonesia. Analogi cepat: kalau Batik, Wayang, dan Angklung adalah halaman-halaman populer di buku itu, maka sembilan tari Bali ini menjadi halaman yang menegaskan perwakilan seni pertunjukan Bali di tingkat internasional.

Kenalan dengan 9 tari Bali yang diakui UNESCO

Bagaimana kesembilan tari ini dikelompokkan? Jawabannya singkat: mereka masuk tiga kelompok yang berbeda berdasarkan fungsi dan konteks pementasan. Mengetahui kelompoknya membantu memahami kapan dan mengapa sebuah tari dipentaskan, seperti mengelompokkan lagu menjadi lagu upacara, lagu pengiring, dan lagu hiburan sehingga penonton tahu apa yang diharapkan.

1. Tari sakral (wali)

• Rejang

• Sanghyang Dedari

• Baris

• Makna angka 3 di sini: ada tiga tari yang dikhususkan untuk upacara keagamaan di pura, yang berarti sepertiga dari keseluruhan daftar ini terkait ritual suci.

2. Tari semi-sakral (bebali)

• Topeng Sidhakarya

• Dramatari Gambuh

• Drama Tari Wayang Wong

• Pertanyaan yang dijawab sendiri: Mengapa disebut semi-sakral? Karena tarian-tarian ini menjalankan fungsi pengiring upacara sekaligus dapat dinikmati sebagai tontonan.

3. Tari hiburan (balih-balihan)

• Legong Kraton

• Joged Bumbung

• Barong Ket

• Analogi: jika dua kelompok sebelumnya seperti doa dan prosesi, kelompok hiburan adalah bagian seni yang sering tampil di ruang publik atau panggung untuk menghibur wisatawan.

Kenapa UNESCO menetapkan pengakuan ini? Apa arti praktisnya?

Kenapa UNESCO menetapkan nama-nama tersebut pada 2 Desember 2015? Jawabannya: untuk mengakui nilai budaya dan keberlanjutan praktik tradisi yang dianggap memiliki relevansi sosial dan akar komunitas. Menempatkan sembilan tari pada daftar representatif berarti tradisi ini diakui di panggung global sebagai bagian dari warisan takbenda kemanusiaan. Implikasi praktisnya untuk masyarakat lokal, secara sederhana, bisa diasumsikan berupa peningkatan perhatian internasional terhadap praktik tersebut dan kemungkinan dukungan untuk pelestarian bentuk-bentuk tradisi itu. Untuk pembaca yang ingin memahami skala, angka 2015 menandai tahun resmi penetapan; ini bukan angka yang merinci anggaran atau program, melainkan penanda sejarah pengakuan.

Contoh konkret: pementasan Tari Sanghyang di Geriana Kauh

Apa yang terjadi saat salah satu tari ini dimainkan dalam konteks lokal? Di Desa Adat Geriana Kauh di Karangasem, Tari Sanghyang dipentaskan sebagai bagian dari ritual padi tahunan pada subak lokal. Analogi sederhana: jika subak adalah kalender pertanian, maka Sanghyang adalah salah satu acara yang tercantum di hari-hari khususnya. Dalam praktiknya, pementasan melibatkan anak perempuan belum akil baligh yang dipercaya mengalami kerawuhan dan menari sebagai bagian ritual penolak bala dan pengusir hama. Sejarah awal pementasan ini tidak tercatat secara pasti tetapi diperkirakan sudah lama berlangsung; kata “diperkirakan” di sini penting karena menyatakan ketidakpastian kronologis yang wajar dalam tradisi lisan.

• Urutan ritual: Sanghyang disebut sebagai tahap keenam dalam rangkaian ritual padi tahunan di subak setempat. Makna angka keenam adalah konkret: ia menempatkan Sanghyang dalam tata urut ritual, bukan sebagai acara tunggal yang berdiri sendiri.

• Pihak yang tercatat berperan dalam pendokumentasian termasuk tim kerja pencatatan dan informan lokal bernama Subrata, yang menceritakan fungsi dan praktiknya. Informasi ini menggambarkan bagaimana pengetahuan tradisional disusun dan dicatat.

Catatan penting: detail praktik Sanghyang di Geriana Kauh menggambarkan hubungan antara tarian dan kegiatan pertanian lokal; kisah ini adalah contoh bagaimana sebuah tari bisa memiliki fungsi yang melekat dalam rutinitas komunitas.

Bagaimana pembagian genre memengaruhi pementasan dan publik?

Bagaimana perbedaan fungsi memengaruhi cara kita menyaksikan tari-tari ini? Jawabannya sederhana: jika sebuah tari termasuk sakral, penonton umumnya adalah komunitas yang mengikuti aturan upacara; jika semi-sakral, tari itu bisa berada di antara ruang upacara dan pentas; jika hiburan, tarian lebih sering dijumpai pada acara umum dan pertunjukan untuk wisatawan. Implikasi praktis bagi penonton adalah menyesuaikan ekspektasi: tidak semua tarian dipentaskan sembarangan di panggung komersial; beberapa hanya disajikan dalam konteks religius yang terikat adat.

Angka 3 sebagai jumlah kelompok menunjukkan pembagian fungsi yang jelas: satu untuk upacara murni, satu untuk fungsi ganda, dan satu untuk hiburan. Ini membantu kita menyusun pemahaman tentang kapan, oleh siapa, dan untuk apa tari-tari itu dimainkan.

Kesimpulan singkat

Pengakuan UNESCO pada 2 Desember 2015 memasukkan sembilan tari Bali ke daftar representatif Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan, dikelompokkan menjadi tiga genre berdasarkan fungsi pementasan: sakral, semi-sakral, dan hiburan. Contoh pementasan Tari Sanghyang di Geriana Kauh memperlihatkan bagaimana salah satu tari ini terhubung erat dengan praktik sosial dan pertanian lokal. Angka 9 dan tanggal 2015 adalah penanda konkret dalam catatan sejarah yang menempatkan tarian-tarian tersebut di panggung internasional.

Lihat postingan selengkapnya di bawah ini :

https://www.instagram.com/p/Dd0Z_w6j1xu/?img_index=6&stkn=MW9jOGtsenpxaHZ1ZQ==